Tugas 1 Manajemen Sumber Daya Manusia "Analisis dan Desain Jabatan"
Analisis
dan Desain Jabatan
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen
Sumber Daya Manusia
Dosen :
Sariyati, SE., MM

Disusun oleh:
Nama :
Dwi Kori Melati
NPM :
22218097
Kelas :
4EB09
FAKULTAS
EKONOMI
JURUSAN
AKUNTANSI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis
panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya,
penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ANALISIS DAN DESAIN JABATAN”
tepat pada waktunya.
Makalah ini berisi uraian
mengenai Analisis dan Desain Jabatan mulai dari pengertian desain
jabatan, elemen - elemen desain pekerjaan,
trade-off keperilakuan dan efisiensi, analisis pekerjaan, analisis
jabatan, arti penting analisis jabatan, tujuan analisis pekerjaan,
langkah-langkah utama dalam analisis pekerjaan, jenis analisis pekerjaan, sifat
dari analisis jabatan, metode mengumpulkan informasi analisis jabatan,
melakukan job classification dan the Politics of reclassification. Tak
lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu selaku Dosen kami dalam
pembelajaran mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia, dan juga kepada
teman-teman yang telah memberikan dukungan kepada kami dalam menyelesaikan
makalah ini.
Harapan terdalam kami,
semoga penyusunan makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua serta menjadi
tambahan informasi mengenai “ANALISIS
DAN DESAIN JABATAN” bagi para pembaca.
Kami meyadari jika dalam
menyusun makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, dengan
hati yang terbuka kritik serta saran yang konstruktif guna kesempurnaan tugas
makalah ini. Demikian makalah ini kami susun, apabila ada kata-kata yang kurang
berkenan dan banyak terdapat kekurangan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Semoga bermanfaat. Terimakasih.
Jakarta, 8 Oktober 2021
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Pada era perkembangan globalisasi seperti saat ini, peran
Sumber Daya Manusia yang berkualitas sangat di butuhkan oleh dunia kerja.
Strategi dalam kebutuhan dunia kerja yang merupakan suatu hal yang harus
dimiliki oleh setiap kelompok, organisasi, lembaga atau perusahaan dan telah
menjadi syarat untuk mendapatkan hasil kerja yang maksimal. Maka dari itu
setiap pekerjaan dan kegiatan yang akan dilaksanakan perlu memahami konsep
manajemen dalam pengelolaan sumber daya manusia. Manajemen sumber daya manusia
atau Human Resource Management, mencakup berbagai arah manajemen yang
dibutuhkan di dunia industry atau dunia pendidikan. Dan untuk memahami
manajemen sumber daya manusia yang meliputi, manajemen tenaga kerja, personil,
karyawan, pegawai atau anggota shingga dapat lebih dengan mudah untuk
mengidentifikasi sumber dari mana personil itu diperoleh, menentukan atau
menghitung berapa yang dibutuhkan, merencanakan dan menganalisis pemenuhan
kebutuhan sampai pada bagaimana mengevaluasi hasil kerja. Sebagai contoh
perusahaan yang masih fokus bersaing harga, maka akan cenderung pada
sentralisasi sehingga banyak pekerja dengan gaji rendah. Sebaliknya perusahaan
yang sudah fokus diferensiasi produk, maka akan cenderung pada desentralisasi
sehingga banyak pekerja dengan gaji yangtinggi dan kemampuan yang tinggi pula.
Semua ini tergantung pada tujuan perusahaan.Satu
hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan sumber daya manusia terutama yang berkaitan
dengan kualitas hasil kerja maka yang pertama-tama harus diketahui terlebih
dahulu olehorganisasi itu adalah mengenali dan memahami tujuan struktur fungsi,
tugas dan pekerjaan apa saja yangyang ada
pada organisasi tersebut maka dari itu dalam sub topik pada bab ini akan
dibahas tentangdesain dan analisis pekerjaan.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
telah dikemukakan diatas, maka dapat diidentifikasi beberapa permasalahan
yang berkaitan dengan pengertian desain jabatan, elemen-elemen
desain pekerjaan, trade-off keperilakuan dan efisiensi, analisis
pekerjaan, analisis jabatan, arti penting analisis jabatan, tujuan analisis
pekerjaan, langkah-langkah utama dalam analisis pekerjaan, jenis analisis
pekerjaan, sifat dari analisis jabatan, metode mengumpulkan informasi analisis
jabatan, melakukan job classification dan the Politics of reclassification.
1.3 Tujuan
Penulisan
Berdasarkan permasalahan diatas, maka dapat diidentifikasi teori terkait dengan pengertian desain jabatan, elemen-elemen desain pekerjaan, trade off keperilakuan dan efisiensi, analisis pekerjaan, analisis jabatan, arti penting analisis jabatan, tujuan analisis pekerjaan, langkah-langkah utama dalam analisis pekerjaan, jenis analisis pekerjaan, sifat dari analisis jabatan, metode mengumpulkan informasi analisis jabatan, melakukan Job Classification dan The Politics of Reclassification.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Desain Jabatan
Simamora (2004:116) mengatakan desain pekerjaan adalah
proses penentuan tugas-tugas yang akan dilaksanakan, metode-metode yang
digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas ini, dan bagaimana pekerjaan tersebut
berkaitan dengan pekerjaan lainnya di dalam organisasi. Desain pekerjaan
memadukan isi pekerjaan (tugas, wewenang dan hubungan) balas jasa dan
kualifikasi yang dipersyaratkan (keahlian, pengetahuan dan kemampuan) untuk
setiap pekerjaan dengan cara memenuhi kebutuhan pegawai maupun perusahaan.
Pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahlian akan sangat sulit untuk
dilaksanakan oleh pegawai. Desain perkerjaan haruslah dirancang dengan sebaik
mungkin dengan mempertimbangkan elemen-elemen yang mempengaruhi desain
pekerjaan.
2.2 Elemen-Elemen
Desain Jabatan
Menurut Handoko (2001:33)
elemen-elemen desain pekerjaan, yaitu:
a.
Elemen-elemen organisasional
Elemen-elemen organisasional merupakan elemen yang harus
diperhatikan suatu organisasi dalam pembentukan atau desain perkerjaan.
Elemen-elemen organisasional pada desain pekerjaan bersangkutan efisiensi.
Efisiensi merupakan suatu pencapaian tujuan sesuai dengan pendanaan-pendanaan
yang ditetapkan oleh perusahaan. Pekerjaan-pekerjaan yang dirancang secara
efisien mendorong pegawai yang mampu dan termotivasi untuk mencapai keluaran
yang maksimal. Perhatian akan efisiensi ini telah dimulai sejak munculnya
manajemen ilmiah.
Para ahli mencurahkan riset mereka untuk menemukan
cara-cara terbaik untuk merancang pekerjaan yang efisien. Studi gerak dan waktu
membeberkan sesuatu disiplin baru, yaitu teknik industri. Berbagai upaya
tersebut menunjukkan bahwa spesialisasi adalah elemen kunci dalam desain
pekerjaan. Bila para pegawai bekerja berulang-ulang sampai batas tertentu,
tingkat keluarannya bisanya lebih tinggi. Penemuan-penemuan para peneliti ini
dapat diterapkan dalam era komputerisasi sekarang.
Berikut
ini adalah elemen-elemen organisasi dalam desain pekerjaan menurut Handoko
(2001:35):
1.
Pendekatan Mekanistik
Pendekatan mekanistik berusaha untuk mengindentifikasikan
setiap tugas dalam suatu pekerjaan agar tugas-tugas dapat diatur untuk
menimbulkan waktu dan tenaga para pegawai. Setelah identifikasi tugas selesai,
sejumlah tugas dikelompokkan menjadi satu perkejaan. Hasilnya adalah
spesialisasi. Pendekatan ini mendekatkan efisiensi waktu, tenaga, biaya tenaga
kerja, latihan dan pengembangan. Teknik ini masih secara luas digunakan dalam
operasi-operasi perakitan, dan terutama efektif bila para pegawai kurang
berpendidikan atau kurang mempunyai pengalaman.
2.
Aliran kerja
Aliran kerja dalam suatu organisasi sangat dipengaruhi
oleh sifat produk atau jasa. Produk atau jasa biasanya menentukan urutan dan
keseimbangan pekerjaan-pekerjaan sehingga dibutuhkan aliran kerja dari suatu
kegiatan.
3.
Praktek-praktek kerja
Praktek-praktek kerja merupakan cara-cara bagaimana
pelaksanaan kerja yang ditetapkan. Metode praktek kerja ini bisanya terbentuk
dari tradisi atau kesempatan kolektif para pegawai atau bagian kontrak
(perjanjian) kerja dari serikat buruh. Hal ini mengurangi flerksibilitas
departemen personalia dalam merancang pekerjaan-perkerjaan.
b.
Elemen-elemen lingkungan
Elemen-elemen lingkungan merupakan aspek kedua dalam
desain perkerjaan. Para perancang pekerjaan tidak dapat mengabaikan pengaruh
lingkungan eksternal. Elemen-elemen lingkungan pokok dalam desain pekerjaan
adalah kemampuan dan tersedianya para pegawai potensial serta
pengharapan-pengharapan sosial. Pertimbangan efisiensi harus diselaraskan
dengan kemampuan dan tersedianya pegawai yang akan melaksanakan pekerjaan.
Misalnya banyak lowongan kerja yang kadang-kadang sulit untuk diisi karena
tidak tersedianya calon pegawai yang mempunyai kemepuan tertentu. Selain itu
desain pekerjaan juga dipengaruhi oleh pengharapan masyarakat. Misalnya
masyarakat di lokasi perusahaan, meskipun tidak mempunyai keterampilan, namun
kenyataannya sering menuntut langan kerja. Disamping itu masyarakat yang
mempunyai keterampilan mempunyai pengharapan yang lebih tinggi dalam hal
kualitas kehidupan kerja. Meskipun aliran dan praktek-praktek kerja mungkin
menyarankan suatu desain perkerjaan tertentu, namun pekerjaan harus memenuhi
harapan-harapan para pegawai dan masyarakat.
c.
Elemen-elemen keperilakuan
Menurut Handoko (2001:36) elemen-elemen keperilakuan
perlu mempertimbangkan beberapa aspek dalam desain pekerjaan, yaitu:
1.
Otonomi
Otonomi mempunyai pengertian bahwa dalam melaksanakan
tugas-tugas dan tanggung jawab atas pekerjaan. Seorang pegawai diberikan
wewenang untuk mengambil keputusan yang dibutuhkan dalam bidang tugasnya.
Dengan diberikannya wewenang pengambilan keputusan maka berarti akan
bertambahnya tanggung jawab, sehingga akan cenderung meningkatkan perasaan
dipercaya dan dihargai. Kurangnya otonomi akan menyebabkan pegawai menjadi
apatis atau menurun prestasi kerjanya. Hal ini akan mengakibatkan turunnya
kepuasan kerja pegawai dalam melaksanakan tugasnya.
2.
Variasi
Variasi pekerjaan sangat dibutuhkan oleh pegawai dalam
melaksanakan tugasnya. Dengan variasi pekerjaan yang baik maka tingkat
kebosanan dalam melaksanakan tugas akan dapat ditekan. Apabila seseorang
pegawai telah merasa bosan maka timbul rasa lelah. Kelelahan yang berlanjut
akan mengakibatkan kesalahan-kesalahan dalam melaksanakan tugas. Dengan adanya
kesalahan-kesalahan ini maka seorang pegawai akan ditegur oleh atasannya.
Dengan tguran ini maka soerang pegawai dapat merasa tidak senang dan tidak puas
dalam melaksanakan tugasnya.
3.
Indentitas Tugas
Identitas pekerjaan merupakan ciri-ciri, jenjang atau
tingkatan dan klasifikasi dari suatu pekerjaan. Bila pekerjaan tidak mempunyai
identitas yang jelas, maka para pegawai akan kurang merasa bertanggung jawab
atas pekerjaannya. Hal ini berarti bahwa kontribusi (sumbangan-sumbangan atau
hasil pekerjaan) para pegawai tidak tampak dengan jelas, sehingga kepuasan
kerja dapat menurun.
4.
Umpan balik
Bila pekerjaan-perkerjaan yang dilaksanakan pegawai
memberikan umpan balik tentang seberapa baik pelaksanaan pekerjaan mereka, maka
para pegawai akan mempunyai pedoman dan motivasi untuk melaksanakan perkerjaan
dengan lebih baik. Hasil atau nilai prestasi kerja pegawai dalam melaksanakan
tugasnya haruslah diberitahukan sehingga dapat memperbaikinya atau dapat
meningkatkannya. Sehingga kepuasan kerja dari pegawai dapat ditingkatkan.
2.3 Trade - Off Keperilakuan dan Efisiensi
Pengertian efesiansi yaitu perbandingan antara keluaran
dengan pemasukan, unsur unsur efesiensiakan membentuk spesialisasi yang tinggi
, mengurangi perbedaan atau variasi, meminimumkan otonomidan unsur-unsur
kontradiktif lainnya.
1.
Produktivitas vs Spesialisasi
Tambahan spesialisasi akan menaikan output sampai pada
titik tertentu, apabila ada kenaikan spesialisasi maka output mengalami
penurunan, karena adanya kebosanan atas pelaksanaan tugasyang terus menerus.
Output dapat di tingkatkan dengan mengarungi spesialisasi pekerjaan.
2.
Kepuasan Kerja vs Spesialisasi
Kepuasan kerja akan meningkat sejalan dengan
kenaikan spesialisasi dan tambahan tambahan spesialisasi mengakibatkan kepuasan
kerja akan menurun pekerjaan tanpa spesialisasi membuat karyawan membutuhkan
waktu lama untuk mempelajari pekerjaan tersebut sampai mampu melakukannya kepuasan
kerja akan menurun karena kurangnya otonomi , variasi dan identitas tugas.
3.
Proses Belajar vs Spesialisasi
Pekerjaan yang sangat terspesialisai lebih mudah di
pelajari dibandingkan dengan pekerjaan yang tidak terspesialisasi. Proses
belajar pada pekerjaan yang terspesialisasi lebih cepat mencapai
standar.pekerjaan yang tidak terspesoialisasi memerlukan waktu lama untuk di
pelajari. Perputaran karyawan versus spesialisasi pekerjaan dapat dengan
mudah dan cepat di pelajari tapi biasanya kepuasan yang di peroleh lebih rendah
, kepuasan yang rendah ini akan menyebabkan tingkat perputaran tenaga kerja
tinggi (turn over manpower).
4.
Perputaran Karyawan vs Speasialisasi
Walaupun pekerjaan yang terspesialisasi mudah dipelajari,
peringkat terbawah kepuasan biasanya diasosiasikan oleh mereka dapat dipimpin
sampai tingkat turnover tertinggi.
2.4 Pengertian
Analisis Pekerjaan
Yang dimaksud dengan analisis pekerjaan adalah proses
pengumpulan informasi mengenai suatu pekerjaan yang dilakukan oleh seorang
pekerja yang dilaksanakan dengan cara mengamati atau mengadakan interview
terhadap pekerja dengan bukti-bukti yang benar dari supervisor. Analisis
pekerjaan ini akan menghasilkan suatu daftar uraian pekerjaan pernyataan
tertulis mengenai kewajiban-kewajiban pekerja dan bisa juga mencakup standar
kualifikasi, yang merinci pendidikan dan pengalaman minimal yang diperlukan
bagi seorang pekerja untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dari kedudukannya
secara memuaskan.
2.5 Arti
Penting Analisis Jabatan
Analisis pekerjaan adalah studi sistematis mengenai
tugas, kewajiban, dan tanggung jawab dari suatu pekerjaan, serta pengetahuan,
kemampuan, dan keahlian yang dibutuhkan untuk mengerjakan pekerjaan tersebut.
Analisis pekerjaan adalah titik awal untuk hampir semua fungsi personalia dan
analisis ini sangat penting untuk mengembangkan cara penilaian personalia
(Wheaton & Whetzel, 1997).
Analisis pekerjaan dilakukan oleh individu yang sungguh
memahami orang-orang, pekerjaan dan keseluruhan sistem organisasi. Dalam
realitanya analisis pekerjaan dilaksanakan oleh pakar job analysis, Job
Analyser dari luar, supervisor, dan manager. Orang yang menganalisis pekerjaan
harus terlatih dalam metode penelitian dasar selain itu juga harus ahli dalam
teknik pengukuran objektif agar dapat menghasilkan analisis yang akurat. Dalam
proses analisis pekerjaan terdapat tiga tahapan penting yaitu:
1.
Mengumpulkan informasi,
2.
Menganalisis dan mengelola informasi jabatan,
dan
3.
Menyusun informasi jabatan dalam suatu format
yang baku.
Analisis pekerjaan yang dilakukan dengan baik akan
menghasilkan uraian jabatan yang baik pula, dan kemudian dapat dijadikan bahan
baku yang baik untuk proses pengelolaan SDM yang lain (evaluasi jabatan,
rekrutmen dan seleksi, manajemen kinerja penyusunan kompetensi, pelatihan).
Analisis pekerjaan adalah suatu proses, sedangkan
produknya adalah deskripsi jabatan, spesifikasi jabatan, dan evaluasi jabatan.
Analisis pekerjaan pada intinya terdiri dari rangkaian sejumlah informasi
yang digali melalui pertanyaan-pertanyaan tertentu. Pertanyaan dalam analisis
pekerjaan itu dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. What: menanyakan tentang apa yang dikerjakan
pada jabatan tersebut atau tugas-tugas apa sajakah yang terdapat pada jabatan
tersebut.
b. How: terkait dengan informasi tentang
bagaimana mengerjakan pekerjaan atau tugas-tugas dalam jabatan tersebut atau
terkait dengan cara atau prosedur pelaksanaan tugas.
c. Why: menyangkut penggalian informasi tentang
mengapa tugas-tugas dalam jabatan tersebut dilakukan atau untuk tujuan apa
tugas-tugas tersebut dikerjakan.
d. Skill involved: kecakapan atau kepandaian
atau ketrampilan apakah yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan atau
tugas-tugas tersebut.
Begitu pentingnya analisis jabatan ini sehingga
mengharuskan organisasi untuk tetap melakukan uraian terhadap jabatan dalam
organisasi dapat berjalan dengan lancar. Terdapat enam alasan penting
mengapa analisa jabatan sangat diperlukan dalam sebuah organisasi:
1. Organisasi baru dibentuk. Uraian jabatan
pada hakikatnya sama pentingnya dengan alasan mengapa organisasi itu dibentuk.
Setiap organisasi yang baru muncul atau dibentuk tentu akan memiliki jenis
pekerjaan yang berbeda dengan organisasi lain yang telah terbentuk. Karena
organisasi itu baru dibentuk, maka penting sekali untuk menjelaskan atau
menguraikan pekerjaan-pekerjaan apa saja yang akan dilakukannya
2. Pembentukan suatu pekerjaan baru. Alasan
ini mengadu pada munculnya jenis pekerjaan yang baru dan sama sekali tidak ada
hubungannya dengan pekerjaan sebelumnya. Bila organisasi yang baru dibentuk
tidak memunculkan jenis pekerjaan yang baru, maka uraian jabatan tidak perlu
dilakukan.
3. Karyawan tidak paham terhadap
pekerjaannya. Ada sebagian karyawan, terutama yang baru diterima tidak
memahami apa yang akan dikerjakannya nanti. Walaupun dalam iklan lowongan
pekerjaan mereka sudah tergambarkan jenis pekerjaan apa yang
dibutuhkan. Uraian pekerjaan sangat penting untuk menyamakan pandangan
terhadap jenis pekerjaaan yang akan dilakukan.
4. Tumpang tindih dan konflik. Antara
karyawan yang satu dengan yang lainnya seringkali melakukan pekerjaan yang sama
meskipun mereka berada dalam bidang berbeda. Kondisi ini dapat mengakibatkan
salah paham atau konflik terutama dalam hal pertanggungjawaban atas pekerjaan.
Hal ini tentu disebakan oleh belum jelasnya pekerjaan masing-masing karyawan.
5. Arus kerja tidak lancar. Dalam arus
kerja, pekerjaan yang satu tentu berhubungan dengan pekerjaan yang lainnya.
Apabila satu pekerjaan belum memahami keana pekerjaan itu diteruskan maka
kondisi itu dapat mengakibatkan terhentinya proses pada pekerjaan yang lain.
6. Sistem penggajian tidak
konsisten. Uraian jabatan akan memberikan batasan-batasan terhadap
pekerjaaan yang akan dilakukan. Semakin banyak jenis pekerjaan yang dilakukan
tentu akan semakin besar kompensasi (gaji) yang diperoleh. Ketidakjelasan
terhadap jenis pekerjaan yang dilakukann akan menyebabkan tidak adanya
konsistensi dalam hal pemberian imbalan gaji.
2.6 Tujuan
Analisis Pekerjaan
Analisis pekerjaan dipakai untuk berbagai tujuan, baik
sektor publik maupun sektor swasta. Berikut ini tujuan dari analisis pekerjaan:
1. Job
description, yang berisi informasi pengeidentifikasian
pekerjaan, riwayat pekerjaan, kewajiban-kewajiban pekerjaan, dan
pertanggungjawaban, spesifikasi pekerjaan atau informasi mengenai standar-
standar pekerjaan.
2. Job
classification, penyusunan
pekerjaan-pekerjaan ke dalam klas-klas, kelompok-kelompok, atau jenis-jenis
berdasarkan rencana sistematika tertentu. Rencana sistematika tradisional
biasanya didasarkan pada garis kewenangan organisasi, isi tugas/pekerjaan yang
didasrkan pada teknologi, dan tugas atau pekerjaan ini pada gilirannya
didasarkan pada perilaku manusia.
3. Job
evaluation, suatu
prosedur pengklasifikasian pekerjaan berdasarkan kegunaan masing-masing di
dalam organisasi dan dalam pasar tenaga kerja luar yang terkait.
4. Job
desing instructuring, meliputi
usaha-usaha untuk mengalokasi dan merestrukturalisasikan kegiatan-kegiatan
pekerjaan ke dalam berbagai kelompok.
5. Personal
requirement/spesifications, berupa
penyusunan persyaratan-persyaratan atau spesifikasi-spesifikasi tertentu bagi
suatu pekerjaan, seperti pengetahuan (knowledge),
ketrampilan (skills), ketangkasan (aptitudes), sifat-sifat dan ciri-ciri (attributes and traits) yang diperlukan
bagi keberhasilan pelaksanaan suatu pekerjaan.
6. Performance
appraisal, tujuan
penting daripada penilaian performansi ini adalah dengan maksud untuk
mempengaruhi dari para pekerja melalui keputusan-keputusan administrasi,
seperti promosi, pemberhentian sementara (lay
off), pemindahan (transfer), kenaikan gaji, memberi informasi kepada para
pekerja tentang kemampuan-kemampuan dan kekurangan-kekurangan yang berkaitan
dengan pekerjaannya masing-masing.
7. Worker
training, untuk
tujuan-tujuan pelatihan.
8. Worker
mobility, untuk
tujuan mobilitas pekerja (karir), yaitu dinamika masuk-keluarnya seseorang
dalam posisi-posisi, pekerjaan-pekerjaan, dan okupasi-okupasi tertentu.
9. Efficiency, ini mencakup penggabungan proses kerja yang
optimal dan rancangan keamanan dari peralatan dan fasilitas fisik lainnya
dengan referensi tertentu pada kegiatan-kegiatan kerja, termasuk
prosedu-prosedur kerja, susunan kerja dan standar-standar kerja.
10. Safety, sama dengan efisiensi, tapi perhatiannya
lebih diarahkan pada identifikasi dan peniadaan perilaku-perilaku kerja yang
tidak aman, kondisi-kondisi lingkungan.
11. Human
resource planning, ini
meliputi kegiatan-kegiatan antisipatif dan reaktif melalui suatu organisasi
untuk memastikan organisasi tersebut memiliki dan akan terus memiliki jumlah
dan macam orang pada tempat yang tepat, waktu yang tepat, dll.
12. Legal/quasi
legal requirements, aturan-aturan
dan ketentuan-ketentuan lainnya yang berkaitan dengan organisasi.
2.7 Langkah-Langkah
Utama dalam Analisis Pekerjaan
Langkah-langkah
utama dalam analisis pekerjaan adalah sebagai berikut:
- Menentukan pengguna hasil informasi
analisis pekerjaan, artinya penganalisis harus tau, informasi ini nantinya
untuk siapa. Karena hasilnya akan digunakan untuk menentukan jenis data
yang dikumpulkan dan metode pengumpulan datanya.
- Mengumpulkan informasi tentang
latar belakang organisasi. Hal ini seperti data bagan organisasi, bagan
proses, dan uraian pekerjaan.
- Menyeleksi muwakal jabatan yang
akan dianalisis, artinya penganalisis harus memilih beberapa muwakal
jabatan untuk dianalisis.Tujuannya untuk menghemat biaya dan effisiensi
waktu.
- Mengumpulkan informasi analisis
pekerjaan, mengadakan analisis pekerjaan secara actual menghimpun data
tentang aktivitas pekerjaan, perilaku karyawan, kondisi kerja dan
sebagainya.
- Meninjau informasi dengan pihak-pihak
yang berkepentingan. Informasi tersebut hendaknya diversivikasi oleh
pekerja yang akan melakukan pekerjaan itu.
- Menyusun uraian dan spesifikasi
pekerjaan.
- Meramalkan/memperhitungkan
perkembangan perusahaan.
2.8 Jenis Analisis
Pekerjaan
Terdapat dua jenis analisis pekerjaan yang
utama, yakni:
1. Analisis pekerjaan tradisional (Traditional
Job Description), yang mana hanya mencari informasi sekitar 3 aspek, yaitu:
a. Tanggung jawab (responsibilities) dari
seseorang terhadap pekerjaannya dan tunduk pada pengarahan dan pengendalian.
b. Kewajiban (duties) umum dari orang
yang memegang suatu kedudukan.
c. Kualifikasi (qualification) minimal
yang layak untuk diterima.
2. Analisis pekerjaan yang
berorientasi pada hasil (Results-oriented Job Description), dimana lebih
menekankan pada manfaat suatu pekerjaan, harapan yang akan dicapai, sesuai
dengan aspek-aspek, yaitu:
a.
Tasks, perilaku, kewajiban atau
fungsi apa yang penting untuk suatu pekerjaan;
b. Conditions, berkaitan dengan sifat
dasar pekerjaan, syarat-syarat suatu pekerjaan serta kondisinya;
c.
Standards, ini berhubungan dengan
performansi suatu pekerjaan baik dilihat dari segi standar kuantitas, standar
kualitas, dan standar waktu dikaitkan dengan tujuan organisasi;
d. SKAs (Skills, Knowledge, Abilities),
yang mana dibutuhkan kriteria kecakapan, pengetahuan dan kemampuan yang standar
minimal layak untuk diterima;
e. Qualifications,
yang berkaitan dengan kualifikasi pendidikan, kualifikasi pengalaman,dan
kualifikasi tambahan yang dibutuhkan untuk suatu pekerjaan.
2.9 Sifat
dari Analisis Jabatan
Definisinya: Prosedur untuk menetapkan tugas dan tuntutan
keterampilan dari suatu jabatan dan orang macam apa yang akan dipekerjakan
untuk itu.
1. Melalui analisis jabatan diperoleh informasi:
aktivitas kerja, perilaku manusia, mesin-alat-perlengkapan-bantuan kerja yang
digunakan, standar kinerja, konteks jabatan dan tuntutan, manusiawi.
2. Kegunaan dari informasi analisis jabatan:
perekrutan dan seleksi, kompensasi, penilaian kinerja, pelatihan dan memastikan
pengangkatan yang lengkap atas semua tugas.
3. Langkah ke dua dalam analisis jabatan:
identifikasi pemakaian atas informasi, meninjau informasi latar belakang, pilih
posisi untuk dianalisis, analisa, klarifikasi informasi dengan pemegang
jabatan, dikembangkan.
2.10 Metode
Pengumpulan Informasi Analisis Jabatan
Untuk memperolah informasi analisis pekerjaan dapat
dilakukan dengan berbagai cara. Metode yang umum digunakan dalam mengumpulkan
informasi adalah observasi, wawancara, dan angket.
1.
Metode Observasi
Metode observasi adalah metode yang digunakan dalam
mengumpulkan informasi dengan mengamati individu yang melakukan pekerjaan itu
dan mencatatnya untuk menguraikan tugas dan kewajiban yang dilakukannya. Metode
observasi sangat tepat jika dilakukan pada jenis pekerjaan yang bersifat
pengulangan. Penggunaan metode observasi memungkinkan analisis dilakukan dekat
dengan suasana pekerjaan dilapangan. Walaupun sifatnya pengamatan, namun tidak
seharusnya analis mengamati secara kontinyu perkembangan dari waktu ke waktu.
Penggunaan work sampling dan employee diary atau log.
2.
Metode Wawancara
Pekerja diseleksi dan diwawancara secara langsung
ditempat pekerjaan meraka atau mereka yang terkait langsung dengan pekerjaan
yang dianalisis. Tiga jenis wawancara dapat digunakan untuk mengumpulkan data
analisis jabatan, yaitu wawancara individual, wawancara kelompok, dan wawancara
penyelia (Dessler:1997). Dalam beberapa keadaan, seperti pekerjaan yang
diarahkan oleh tim, dapat juga digunakan wawancara kelompok. Salah satu kelemahan
metode wawancara adalah sangat memakan waktu, khususnya jika pewawancara
berbicara dengan dua atau tiga pegawai yang melakukan setiap pekerjaan.
3.
Metode Angket
Dengan mengunakan angket, yang bersangkutan diminta untuk
memberikan data-data mengenai jabatannya dangan kata-kata sendiri. Analis
meminta karyawan mengisi kuisioner untuk menggambarkan tugas-tugas yang
berkaitan dengan jabatan dan tanggung jawab mereka. Keuntungan utama dari
metode kuisioner angket adalah informasi atas sejumlah pekerjaan dapat
dikumpulkan secara murah dan dalam waktu yang relative singkat. Sebaliknya,
metode angket memerlukan waktu yang lama untuk menguji kuisioner tersebut.
2.11 Klasifikasi
Pekerjaan
Sistem klasifikasi untuk semua pekerjaan, baik untuk sektor
publik maupun sektor swasta, didasarkan atas beberapa faktor, diantaranya:
1. Masukan informasi, dimana dan bagaimana
pekerja memperoleh informasi yang diperlukan untuk suatu pekerjaan.
2. Proses mental, pertimbangan apa yang
ditekankan dalam pembuatan keputusan, perencanaan dan aktifitas dalam
pelaksanaan pekerjaan.
3. Output pekerjaan, aktifitas fisik apa yang
dilakukan oleh pekerja, dan alat apa yang dipakai oleh para pekerja?
4. Relasi dengan orang, relasi dengan orang lain
yang bagaimana yang dituntut dalam pelaksanaan pekerjaan?
5. Konteks pekerjaan, dalam kontek fisik dan
sosial apa pekerjaan dilaksanakan?
6. Metode kerja, metode atau teknik apa yang
digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan?
7. Ciri-ciri pekerja, ciri-ciri kepribadian atau
kemampuan apa yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pekerjaan?
2.12 Politik
Reklasifikasi
Daya tangkap politik mempengaruhi fungsi-fungsi alokasi
dari analisis pekerjaan dengan cara mendeskripsikan reklasifikasi politik
mengenai dua jenis keputusan reklasifikasi, yaitu:
1.
Reklasifikasi yang menyebabkan perubahan
dalam gaji.
2. Reklasifikasi yang menyebabkan perubahan status dari suatu posisi pelayanan sipil yang telah diklasifikasikan dalam unit hasil kompromi bersama keposisi yang dikecualikan atau di luar unit kompromi. (Gomes, 2003, hal. 103)
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Analisis Pekerjaan adalah proses pengumpulan informasi
mengenai suatu pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pekerja, yang dilaksanakan
dengan mengamati cara atau mengadakan interview terhadap pekerja, dengan
bukti-bukti yang benar dari supervisor. Analisis pekerjaan (job analysis)
perlu dilakukan agar dapat mendesain organisasi serta menetapkan uraian
pekerjaan, spesifikasi pekerjaan, dan evaluasi pekerjaan. Analisis pekerjaan
adalah menganalisis dan mendesain pekerjaan apa saja yang harus dikerjakan,
bagaimana mengerjakannya, dan mengapa pekerjaan itu harus dikerjakan.
Pengumpulan data dalam analisa pekerjaan dapat dilakukan
melalui beberapa cara, yaitu: Observasi, Wawancara, Kuesioner, dan Catatan
Harian Kerja Karyawan.
Proses penyelenggaraan dalam analisa pekerjaan ada
beberapa tahap-tahap, yaitu: Tahapan Persiapan, Pengumpulan Data, Kombinasi,
Pengolahan data, dan diskusi hasil pengolahan data.
3.2 Saran
Dalam makalah ini kami penulis menyarankan agar analisis jabatan hendaknya dijalankan dengan sebaik mungkin, mengingat begitu pentingnya peran dan fungsi sumber daya manusia dalam rangka pencapaian tujuan yang ditetapkan organisasi dalam informasi mengenai analisis jabatan. Perkembangan psikologi manusia perlu menjadi perhatian utama bagi manajer sumber daya manusia, dalam rangka melakukan manajemen terhadap sumber daya manusia dalam organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Dessler, Gary. 2006. Manajemen
Sumber Daya Manusia. Jakarta: Indeks
Handoko,
Hani T. Manajemen Personalia dan sumber Daya Manusia.
Yogyakarta: 1993.
Moekijat. Analisa
Jabatan. Bandung: Alumni, 1982.
Nitisemito, Alex
S. Manajemen Personalia. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982.
https://www.academia.edu/35210984/Makalah_msdm. Diakses
pada tanggal 7 Oktober 2021. Pukul 10.55 WIB.
Comments
Post a Comment